3 Ujian Praktik Kreatif Kelas 6 MI Darul Ulum Rejomulyo: Asah Skill Siswa

Rejomulyo – Menjelang masa akhir jenjang pendidikan sekolah dasar, siswa kelas 6 MI Darul Ulum Rejomulyo tampak antusias mengikuti rangkaian ujian praktik. Kegiatan ini bukan sekadar formalitas syarat kelulusan, melainkan ajang pembuktian kompetensi siswa dalam bidang akademik, keterampilan seni, hingga penguatan nilai-nilai keagamaan. Ujian praktik tahun ini dirancang dengan pendekatan kreatif agar siswa tidak merasa terbebani, namun tetap mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna.

Ujian Praktik IPAS: Menjelajahi Tata Surya

Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) membuka rangkaian ujian dengan proyek pembuatan model tata surya. Di bawah bimbingan langsung Bapak Heri Supriyanto, para siswa kelas 6 diajak untuk memahami posisi planet dan benda-benda langit secara nyata.

ujian praktek mi darul ulum rejomulyo

Bapak Heri Supriyanto menekankan bahwa proyek ini bertujuan agar siswa mampu memvisualisasikan konsep abstrak ruang angkasa menjadi bentuk model tiga dimensi. Siswa bekerja dalam kelompok, merancang orbit, dan menentukan komposisi planet. Melalui bimbingan Bapak Heri Supriyanto, siswa terlihat sangat teliti dalam menyusun detail model tata surya mereka, sebuah proses yang mengasah kemampuan motorik sekaligus pemahaman sains mereka.

Kreativitas Seni Rupa dengan Teknik Celup

Beralih dari sains, suasana ujian berubah menjadi sangat artistik pada mata pelajaran Seni Rupa. Dipandu oleh Ibu Silvi Bahariana, siswa kelas 6 ditantang untuk membuat karya taplak meja menggunakan teknik celup (tie-dye). Ibu Silvi Bahariana memberikan arahan mengenai komposisi warna dan cara mengikat kain agar menghasilkan pola yang estetik.

Proses kreasi ini memakan waktu dan ketelitian tinggi. Setiap siswa MI Darul Ulum Rejomulyo harus berani bereksperimen dengan perpaduan warna yang berbeda. Menurut Ibu Silvi Bahariana, teknik celup dipilih karena mampu merangsang kreativitas siswa secara bebas, sekaligus mengajarkan mereka tentang proses transformasi material menjadi barang bernilai seni tinggi. Hasil karya taplak meja siswa kelas 6 MI Darul Ulum Rejomulyo ini pun mencerminkan keberanian mereka dalam berkreasi.

Ujian Praktik Fikih: Penguatan Nilai Ibadah

Tidak melulu soal kreativitas fisik, ujian praktik di MI Darul Ulum Rejomulyo juga menyentuh aspek spiritual melalui mata pelajaran Fikih. Siswa kelas 6 diwajibkan untuk menghafal dan mempraktikkan tata cara tahlil secara fasih dan benar. Ustadz Hanif selaku pembimbing mata pelajaran ini memastikan setiap siswa memiliki pemahaman yang kuat mengenai urutan dan bacaan tahlil.

Ustadz Hanif memberikan evaluasi mendalam terkait tajwid dan kekhusyukan siswa saat melafalkan bacaan tersebut. Ujian ini sangat penting di MI Darul Ulum Rejomulyo, mengingat tahlil adalah praktik ibadah yang sering dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Dengan bimbingan Ustadz Hanif, siswa diharapkan tidak hanya hafal secara lisan, tetapi juga mengerti esensi dari setiap doa yang dipanjatkan dalam tahlil tersebut.

Komitmen MI Darul Ulum Rejomulyo Terhadap Kualitas Lulusan

Rangkaian ujian praktik ini menunjukkan komitmen MI Darul Ulum Rejomulyo dalam mencetak lulusan yang seimbang antara kecerdasan intelektual, keterampilan artistik, dan kesalehan spiritual. Pihak madrasah percaya bahwa ujian praktik dengan metode yang menyenangkan akan membekas lebih dalam di ingatan siswa dibandingkan sekadar ujian tulis.

Sinergi antara tenaga pengajar seperti Bapak Heri Supriyanto, Ibu Silvi Bahariana, dan Ustadz Hanif menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan ujian praktik di kelas 6 tahun ini. Dengan selesainya ujian ini, para siswa diharapkan siap melangkah ke jenjang pendidikan menengah dengan bekal ilmu dan keterampilan yang komprehensif. Semangat para siswa untuk menyelesaikan setiap tantangan membuktikan bahwa kualitas pendidikan di madrasah ini terus mengalami peningkatan yang signifikan setiap tahunnya.

Ditulis Oleh: Admin Madrasah

Admin Madrasah
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” ( Pramoedya Ananta Toer )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *